Selamat Datang di PP PAUD dan Dikmas Jawa Tengah
Banner
e-supervisiAplikasi Pemetaan Mutu
Agenda
21 November 2018
M
S
S
R
K
J
S
28
29
30
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
1
2
3
4
5
6
7
8
Statistik

Total Hits : 221684
Pengunjung : 56920
Hari ini : 96
Hits hari ini : 266
Member Online :
IP : 54.196.190.32
Proxy : -
Browser : Opera Mini

Yuk, Ajari Anak Kita Toilet Training Sejak Dini

Tanggal : 21-06-2017 11:17, dibaca 777 kali.



  1. a.                  Pengertian Toilet Training

Hal yang menyebalkan sekaligus menggemaskan buat orangtua ketika anaknya buang air kecil atau buang air  besar di lantai yang sudah bersih. Atau pipis di kasur yang kain penutupnya baru diganti dengan yang bersih dan wangi. Akibatnya, cucian bekas ompol menumpuk yang seakan-akan menghantui Anda, karena tumpukan itu tidak pemah berkurang. Kalau bukan karena sayang anak dan sadar risiko menjadi orangtua ingin marah-marah terus rasanya.

 

Kebiasaan mengompol pada anak di bawah usia 2 tahun merupakan hal yang wajar, bahkan ada beberapa anak yang masih mengompol pada usia 4-5 tahun dan sesekali terjadi pada anak 7 tahun.  Anak di bawah usia 2 tahun mengompol karna belum sempurnanya kontrol kandung kemih atau toilet trainingnya.

 

Ada beberapa penelitian dan literatur yang menyebutkan kira-kira setengah dari anak umur 3 tahun masih mengompol. Bahkan beberapa ahli menganggap bahwa anak umur enam tahun masih mengompol itu wajar, walaupun itu hanya dilakukan oleh sekitar 12 % anak umur 6 tahun.

 

Tapi, bukan berarti anak tidak diajarkan bagaimana cara benar untuk buang air kecil (BAK) dan buang air besar (BAB) yang benar dan di tempat yang tepat bukan? Karena kita juga harus memperhitungkan masa sekolah anak, di mana biasanya ketika sudah bersekolah ada tuntutan bagi anak untuk tidak lagi pipis sembarangan.

 

Toilet training merupakan latihan kebersihan, dimana diperlukan kemampuan fisik untuk mengontrol sfincter ani dan urethra dan tercapai kadang-kadangsetelah anak bisaberjalan (Whaley & Wong, 1999).

 

Menurut Supartini (2004) Toilet training merupakan aspek penting dalam perkembangan anak usia toddler yang harus mendapat perhatian orang tua dalam berkemih dan defekasi.

 

Menururt Hidayat (2005) Toilet training merupakan suatu usaha untuk malatih anak agarmampu mengontrol dan melakukan buang air kecil dan buang air besar.

 

Menurut Siti Mufattahah,S.Psi Toilet training merupakan cara untuk melatih anak agar bisa mengontrol buang air kecil (BAK) dan buang air besar (BAB). Dengan toilet training diharapkan dapat melatih anak untuk mampu BAK dan BAB di tempat yang telah ditentukan. Selain itu, toilet training juga mengajarkan anak untuk dapat membersihkan kotorannya sendiri dan memakai kembali celananya

 

 

  1. b.        Waktu Yang Tepat Untuk Toilet Training

Untuk mengajarkan toilet training pada anak bisa dimulai sejak usia 1 sampai 3 tahun. Pada saat usia tersebut, si anak harus mampu melakukan toilet training. Jika si anak tidak mampu melakukan toilet training sendiri boleh jadi anak pernah mengalami hambatan.

Cara orangtua mendidik anaknya agar terbiasa untuk dapat pipis atau BAB sesuai waktunya, stimulasinya bisa dimulai sejak usia 2 bulan. Caranya, orangtua bisa memeriksa popoknya atau mengganti popoknya setelah basah. Karena orangtua sebagai orang yang terdekat dengan anaknya mengetahui kapan waktu anaknya BAK atau pun BAB.

 

Apabila anak sejak usia 2 bulan tidak mampu diajarkan toilet training, tidak ada salahnya anak diajarkan saat usia 1 tahun. Perlu diingat anak pada usia 1 tahun mengalami fase anal. Pada fase ini anak mencapai kepuasan melalui bagian anus. Fase kepuasan ini berhubungan dengan kebersihan dan jadwal kedisiplinan.

 

Jadi, seorang anak minimal sudah diajarkan sejak usia 1 tahun. Bila anak diajarkan ketika berusia lebih dari 3 tahun dikhawatirkan akan agak susah mengubah perilaku anak. Selain itu, bila anak sudah lebih dari 3 tahun belum mampu untuk toilet training, boleh jadi ia mengalami kemunduran. Karena pada saat usia 1 sampai 3 tahun ia belum mampu melakukan buang air sesuai dengan waktu dan tempat yang telah ditentukan. Akibatnya, anak bisa menjadi bahan cemoohan teman-temannya.

 

Anak usia 4 tahun yang tidak mampu BAK atau BAB sesuai waktu dan tempat yang telah disediakan boleh dianggap kurang wajar. Tetapi pada usia tiga tahun masih dianggap wajar bila BAK atau BAB di celananya. Namun begitu, bukan berarti orangtua membiarkan saja. Berilah pengertian pada anak bahwa cara yang dilakukan tidaklah tepat.

 

Masalah kemandirian anak BAK dan BAB boleh dikatakan tidak ada perbedaan antara anak wanita dan laki-laki. Biasanya anak wanita lebih penurut, maka ia akan lebih cepat diajarkan untuk toilet training dibanding anak laki-laki. Namun demikian untuk mengajarkan toilet training pada laki-laki pun harus bisa.

 

  1. c.         Tanda Si Kecil Siap

Beberapa tanda si kecil siap melakukan toilet training:

  1. Tidak mengompol beberapa jam sehari, atau bila ia berhasil bangun tidur tanpa mengompol sedikit pun.
  2. Waktu buang airnya sudah bisa diperkirakan.
  3.  Sudah bisa memberitahu bila celana atau popok sekali pakainya sudah kotor ataupun basah.
  4. Tertarik dengan kebiasaan masuk ke dalam toilet, seperti kebiasaan orang-orang lain di dalam rumahnya.
  5. Minta untuk diajari menggunakan toilet.
  1. 1.    Tahapan Toilet Training

Latihan buang air besar atau kecil pada anak atau dikenal dengan nama toilet training merupakan suatu hal yang harus dilakukan pada orang tua anak, mengingat dengan latihan itu diharapkan anak mempunyai kemampuan sendiri dalam melaksanakan buang air besar dan buang air kecil tanpa merasakan ketakutan atau kecemasan sehingga anak akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan sesuai usia tumbuh kembang anak.

Banyak cara yang dapat dilakukan oleh orang tua dalam melatih anak untuk buang air besar dan air kecil, diantaranya (Hidayat, 2005):

                            

a. Teknik Lisan

Melatih anak dengan cara memberikan intruksi pada anak dengan kata-kata sebelum atau sesudah buang air besar dan buang air kecil, cara ini kadang-kadang merupakan hal biasa yang dilakukan pada orang tua akan tetapi apabila kita perhatikan bahwa teknik lisan ini mempunyai nilai yang cukup besar dalam memberikan rangsangan untuk buang air kecil dan buang air besar dimana dengan lisan ini persiapan psikologis anak akan semakin matang dan akhirnya anak akan mampu dengan baik

dalam melaksanakan buang air kecil dan buang air besar.

                                  

b. Teknik modeling

Melatih anak dengan cara meniru untuk buang air besar atau memberikan contoh buang air kecil dan buang air besar atau membiasakan buang air kecil dan buang air besar dengan benar. Dampak yang jelek pada cara ini adalah apabila contoh yang diberikan salah sehingga akan dapat diperlihatkan pada anak akhirnya anak juga mempunyai kebiasaan yang salah.

 

Selain cara tersebut diatas terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan seperti melakukan observasi waktu pada saat anak melakukan buang air besar dan buang air atau Biasakan menggunakan toilet pada buah hati untuk buang air. Mulailah dengan membiasakan anak masuk ke dalam WC. Latih si kecil untuk duduk di toilet meski dengan pakaian lengkap. saat si kecil sedang membiasakan diri di toilet, Anda dapat menjelaskan kegunaan toilet. Nah, agar si kecil tidak takut di toilet, Anda dapat menemaninya sambil membacakan buku atau menyanyikan lagu kesayangannya. Lakukan secara rutin pada si kecil ketika terlihat ingin buang air.
Sejak si kecil terbiasa dengan toiletnya, ajaklah ia untuk menggunakannya. Biarkan ia duduk di toilet pada waktu-waktu tertentu setiap hari, terutama 20 menit setelah bangun tidur dan seusai makan. Bila pada waktu-waktu itu, si kecil sudah duduk di toilet namun tidak ingin buang air, ajak ia segera keluar dari toilet. Bila sekali-sekali ia mengompol, itu merupakan hal yang normal. Anda juga tak perlu khawatir dan memaksanya bila si kecil kadang-kadang mogok dan tak mau ke toilet.

Pujilah bila ia berhasil, meskipun kemajuannya tidak secepat yang anda inginkan. Bila si anak mengalami kecelakaan segera bersihkan dan jangan menyalahkannya. Jadilah model yang baik, agar si kecil lebih mudah mengerti. Contohkan padanya bagaimana menggunakan toilet sehari-hari.

 

  1. Perbedaan Anak Laki-laki dan Perempuan saat Toilet training.

Banyak orang tua  berharap toilet training  berarti benar-benar bebas dari popok. Tapi, cara mengajari anak laki-laki dengan anak perempuan itu berbeda. Seperti siang dan malam. Memang, kedua jenis kelamin ini memulainya dengan duduk. Haya saja, banyak juga anak laki-laki yang memilih melakukannya sambil berdiri . Anak perempuan memang belajar lebih cepat, tapi ia masih harus belajar cara duduk yang benar plus membersihkan alat kelaminnya dengan bersih.

Inilah cara mudah melatih anak Anda baik perempuan maupun laki-laki:

Perempuan

Perlengkapan

Gunakan toilet khusus anak-anak. Otot-otot panggulnya akan rileks, karena kaki si kecil tetap menginjak lantai. Kalaupun memakai toilet orang dewasa, berikan bangku kecil sebagai pijakan.

Posisi

Minimalkan cipratan pipis atau pup dengan cara menempatkan bokong dan vagina benar-benar di atas toilet. Minta si kecil untuk duduk dengan kedua lutut terbuka lebar. Sepele memang, tapi ini akan membantu otot-otot panggulnya tetap rileks.

Tehnik toilet training anak perempuan

Ajarkan si kecil untuk membersihkan (atau menepuk-nepuk) alat kelaminnya dari arah depan ke arah belakang. Biarkan dia melihat Anda melakukannya dulu. Buat dia tetap asyik dan betah duduk berlama-lama dengan menaruh buku, sticker, atau memutar lagu favoritnya di dekat toilet atau mengajaknya bercerita.


Laki-laki

Perlengkapan

Biarkan dia menggunakan toilet khusus untuk pipis. Ini kalau dia tidak siap berdiri Apabila BAB, bisa saja ia tetap memakai toilet itu atau  tambahkan saja dudukan pada toilet Anda (plus bangku kecil untuk pijakan kakinya).

Posisi

Minta si kecil mendorong penisnya lurus ke bawah sebelum dia duduk di atas toilet. Dengan begitu, cipratan pipisnya tidak kemana-mana. Bila ia memilih berdiri, pastikan posisinya sudah pas. Kedua kaki terbuka lebar, dan ia tepat di depan toilet.

Tehnik toilet training anak laki-laki

Biarkan dia melihat ayahnya, atau tunjukkan bagaimana cara “mengarahkan” penisnya. Untuk membuktikan bahwa posisiny sudah benar  atau belum, ada beberapa cara mengetesnya. Jatuhkan beberapa cracker ke dalam toilet, lalu minta dia “menembaknya” dengan pipis. Beri dia stiker yang lucu begitu dia berhasil mengenainya. Jika ia BAB, jangan lupa temani dan ajak ia bercerita.


KEBERHASILAN DAN KEGAGALAN TOILET TRAINING

 

  1. a.    Pola Asuh mempengaruhi Toilet Training

Keberhasilan dan kegagalan penerapan toilet training tergantung dari orang tua itu sendiri, penyebab yang paling umum dalam kegagalan toilet training seperti adanya perlakuan atau aturan yang ketat bagi orangtua kepada anaknya yang dapat mengganggu kepribadian anak atau cenderung bersifat relatif dimana anak cenderung bersikap keras kepala bahkan kikir. Hal ini dapat dilakukan orangtua apabila sering memarahi anak pada saat buang air besar atau kecil, atau melarang anak saat bepergian. Bila orangtua santai dalam memberikan aturan dalam toilet training maka anak akan dapat mengalami kepribadian ekspresif dimana anak lebih tega, cenderung ceroboh, suka membuat garagara,

emosional dan seenaknya dalam melakukan kegiatan sehari-hari (Hidayat, 2005).

 

Yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan dalam latihan memakai toilet (Thompson,2003):

 

a. Tidak boleh membiarkan anak memilih sendiri dudukan toiletnya karena akanberbahaya bagi anak.

b. Membiarkan anakmenyiram toilet jika anak mau

c. Memastikan anak mencuci tangan dengan baik setelah buang air

d. Memastikan anak perempuan cebok dari arah depan kebelakang

e. Tidak Boleh membandingkan kemajuan dengan anak lain

 

Pola Asuh dalam mendidik anak juga sangat berpengaruh dalam keberhasilan atau tidaknya toilet training. Pola asuh adalah model dan cara pemberian perlakuan seseorang kepada orang lain dalam suatu lingkungan sosial, atau dengan kata lain pola asuh adalah model dan cara dari orang tua memperlakukan anak dalam suatu lingkungan keluarga sehari-hari baik perlakuan berupa fisik maupun psikis.

 

Pola asuh merupakan konsep yang menggambarkan variasi pengasuhan anak dalam hal pendisiplinan, kehangatan, perhatian terhadap kebutuhan anak, serta sikap dan keyakinan orangtua yang secara konsisten membentuk pola dalam memperlakukan anak.

 

Baumrind (1967) mendefinisikan macam-macam pola asuh diantaranya yaitu:

a. Pola asuh demokratis

Pola asuh demokratis merupakan pola asuh yang memprioritaskan kepentingan anak akan tetapi tidak ragu-ragu mengendalikan mereka. Orang tua dengan pola asuh ini bersikap rasional, selalu mendasari tindakanya pada rasio-rasio atau pemikiranpemikiran.

Orang tua tipe ini juga bersikap realistis terhadap kemampuan anak, tidak berharap yang berlebihan yang melampaui kemampuan anak. Orang tua tipe ini juga memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih dan melakukan suatu tindakan dan pendekatan kepada anak.

 

b. Pola Asuh Otoriter

Pola asuh ini cenderung menetapkan standar yang mutlak harus di turuti, biasanyadisertai dengan ancaman-ancaman. Orang tua tipe ini cenderung memaksa, memerintah, menghukum. Apabila anak tidak mau melakukan apa yang di katakan oleh orangtua, maka orang tua tipe ini tidak segan menghukun anak. Orang tua tipe ini juga tidak mengenal kompromi dan dalam komunikasi biasanya bersifat satu arah. Orang tua tipe ini tidak memberikan umpan balik dari anaknya untuk mengerti mengenai anaknya.

 

 

 

c. Pola Asuh Permisif

Pola asuh ini memberikan pengawasan yang sangat longgar.Memberikan kesempatan pada anaknya untuk melakukan sesuatu tanpa pengawasan yang cukup darinya. Mereka cenderung tidak menegur atau memperingatkan anak apabila anak tidak sedang dalam bahaya dan sangat sedikit bimbingan yang diberikan oleh mereka, namun orang tua tipe ini biasanya bersifat hangat, sehingga seringkali disukai oleh anak.

 

Gunarsa (2000) mengemukakan bahwa dalam menanamkan disiplin kepada anak,orang tua yang menerapkan pola asuh demokratis memperlihatkan dan menghargai kebebasan yang tidak mutlak, dengan bimbingan yang penuh pengertian antara anak dan orangtua, memberi penjelasan secara rasional dan objektif jika keinginan dan pendapat anak tidak sesuai. Pola asuh ini, anak tumbuh rasa tanggung jawab,mampu bertindak sesuai dengan norma yang ada.

 

b.Keberhasilan dan kegagalan Toilet Training

 

Keberhasilan menguasai tugas-tugas perkembangan (mulai belajar mengontrol buang air besar dan buang air kecil) pada toddler memerlukan bimbingan dari orangtua. Keberhasilantoilet training dapat di capai apabila anak mampu mengenali keinginan untuk buang airbesar dan buang air kecil, kemampuan fisik anak untuk mengontrol spinkter anal & uretral akan di capai pada usia anak 18-24 bulan.

1. Toilet training dikatakan berhasil apabila :

a. Anak mau memberi tahu bila merasa buang air kecil atau buang air besar

b. Anak mengatakan pada ibu bila buang air kecil atau buang air besar.

c. Anak mampu menahan buang air kecil atau buang air besar.

d. Anak tidak pernah ngompol atau buang air besar di celana.

 

  1. Toilet training dikatakan terlambat apabila :

 

  1. Anak terlambat memberi tahu bila merasa membuang air kecil atau buang air besar.
  2. Anak terlambat mengatakan pada ibu bila buang air kecil atau buang air besar.
  3. c. Anak terlambat mampu menahan buang air kecil atau buang air besar.
  4. d. Anak ngompol terus atau buang air besar dicelana.

 

c. Usia Toddler

Usia toddler yaitu menginjak tahun pertama sampai tahun ke tiga, kehidupan anak berpusat pada kesenangan anak, yaitu selama perkembangan otot sfingter. Anak senang menahan feses,bahkan bermain-main dengan fesesnya sesuai dengan keinginannya. Dengan demikian,toilet training adalah waktu yang tepat dilakukan pada periode ini. Perkembangan psikologis,rasa malu dan ragu berpusat pada kemampuan anak mengontrol tubuh dan lingkungannya. Anak ingin melakukan hal-hal yang ingin dilakukannya sendiri dengan menggunakan kemampuan yang sudah mereka miliki, seperti berjalan, berjinjit, memanjat, dan memilih mainan atau barang yang diinginkannya. Pada fase ini anak akan meniru perilaku orang lain disekitarnya dan hal ini merupakan proses belajar. Sebaliknya perasaan malu dan ragu-ragu akan timbul apabila anak merasa dirinya kerdil atau saat mereka dipaksa oleh orangtuannya atau orang dewasa lainnya untuk memilih berbuat sesuatu yang dikehendaki mereka.

Toddler dihadapkan pada penguasaan beberapa tugas penting khususnya meliputi deferensiasi diri dari oranglain, terutama ibunya, toleransi terhadap perpisahan dengan orangtua, kemampuan untuk menunda pencapaian kepuasan, pengontrolan fungsi tubuh,penguasaan perilaku yang dapat diterima sacara sosial, komunikasi memiliki makna verbal, dan kemampuan berinteraksi dengan oranglain dengan cara yang tidak terlalu egosentris. Apabila kebutuhan untuk membentuk dasar kepercayaan telah terpuaskan mereka siap meninggalkan ketergantungan menjadi memiliki kontrol, mandiri, dan otonomi.`

Menurut Soetjiningsih tugas perkembangan pada usia 18 sampai 24 bulan meliputi menunjuk mata dan hidungnya, mulai belajar mengontrol buang air besar dan buang air kecil dan menaruh minat kepada apa yang diajarkan oleh orang-orang yang lebih besar.

Para peneliti mempercayai bahwa pola asuh memiliki pengaruh pada akibat-akibat (outcome) anak seperti penyesuaian, problem perilaku, kompetensi dan internalisasi nilai.Pola asuh merupakan konsep yang menggambarkan variasi pengasuhan anak dalam hal pendisiplinan, kehangatan, perhatian terhadap kebutuhan anak, serta sikap dan keyakinan orangtua yang secara konsisten membentuk pola dalam memperlakukan anak.Keberhasilan toilet training dapat dilihat apabila anak sudah bisa dan atau mau memberi

tahu bila merasa buang air kecil atau buang air besar, mengatakan pada ibu bila buangair kecil atau buang air besar, mampu menahan buang air kecil atau buang air besar, dantidak pernah mengompol atau buang air besar di celana 



Pengirim :
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :