Selamat Datang di PP PAUD dan Dikmas Jawa Tengah
Banner
e-supervisiAplikasi Pemetaan Mutu
Agenda
21 November 2018
M
S
S
R
K
J
S
28
29
30
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
1
2
3
4
5
6
7
8
Statistik

Total Hits : 221681
Pengunjung : 56919
Hari ini : 95
Hits hari ini : 263
Member Online :
IP : 54.196.190.32
Proxy : -
Browser : Opera Mini

Menjadi Ayah Hebat

Tanggal : 25-07-2017 11:08, dibaca 565 kali.



Tampaknya ada semacam kebingungan dan perasaan frustrasi pada kebanyakan keluarga dalam hal mendidik anak pada saat ini. Keresahan ini membuat banyak keluarga mengalami keretakan atau kekurangharmonisan.

Salah satu penyebab kekacauan dalam hal mendidik anak adalah karena terjadinya perubahan dalam struktur dan pola hubungan antar anggota keluarga. Beberapa tahun silam, sebagian besar anak hidup dalam keluarga yang merupakan “keluarga luas” (extended family). Satu tempat tinggal sekaligus didiami oleh kakek-nenek, ayah-ibu, anak-anak, bahkan juga paman-bibi dan saudara sepupu. Perhatian dan intensitas hubungan sosialyang diperoleh anak-anak tersebut relatif lebih banyak dibanding tahun-tahun belakangan ini. Berbeda dengan keadaan saat ini. Kebanyakan keluarga di perkotaan masa kini sudah merupakan “keluarga inti”(nuclear family) yang hanya terdiri dari ayah-ibu dan anak-anak. Bila dalam “keluarga luas” perawatan bayi dan anak-anak memperoleh perhatian dan dukungan dari banyak orang, tidak demikian halnya dengan “keluarga inti.” Dalam keluarga inti, orangtua memperoleh bagian tugas merawat dan mendidik anak yang jauh lebih berat dari pada orangtua beberapa tahun silam. Hal ini karena orangtua sekarang tidak memperoleh bantuan dari anggota keluarga yang lain. Banyak hal yang sederhana, seperti misalnya bercerita untuk anak, sulit dilakukan oleh ibu atau ayah zaman sekarang. Ayah-ibu sekarang terlalu lelah karena tenaganya terkuras untuk rutinitas pekerjaan yang seolah tiada habisnya. Padahal tersedianya waktu untuk bercerita sangat penting artinya untuk menyampaikan pengajaran moral (bahkan juga iman) secara natural dan efektif.

Perubahan lain adalah dunia kerja yang saat ini menuntut jauh lebih banyak waktu dari pekerjanya. Kita tidak akan heran melihat seorang ayah sibuk bekerja, yang hanya pulang untuk tidur dan jarang bertatap muka dengan anak-anaknya. Hal ini serupa dengan yang telah terjadi didunia Barat. Hal ini dibuktikan dalam sebuah penelitian dimana . Mula-mula para peneliti meminta sekelompok ayah untuk memperkirakan waktu yang diluangkan bagi anak-anak mereka yang berusia setahun setiap harinya. Para peneliti memperoleh jawaban bahwa rata-rata para ayah menghabiskan waktu 15 hingga 20 menit seharinya. Untuk menguji pernyataan mereka, peneliti menempelkan mikrofon di baju anak-anak tersebut. Pembicaraan dari para ayah dengan anaknya tersebut kemudian direkam. Hasilnya cukup mengejutkan. Ternyata waktu yang digunakan para ayah tersebut untuk berinteraksi dengan anaknya hanya sekitar 37 detik setiap harinya!

Interaksi mereka secara langsung adalah sebanyak 2,7 kali. Berarti setiap kali interaksi hanya berlangsung sekitar 10 hingga 15 detik. Secara sarkastik kondisi semacam ini disebut dengan istilah rat-race. Hal ini terlihat pada kesibukan manusia setiap hari dengan segala kewajiban mulai dari membayar rekening telepon, air, listrik, kartukredit, juga merawat tubuh, olah raga, baca koran, nonton televisi,menelepon teman, membetulkan rumah dan kendaraan pribadi, belanja,mempersiapkan pelayanan, ikut dalam kegiatan sosial, dan seterusnya. Ayah juga semakin tidak mudah menjalankan fungsinya mendidik anak karena saat ini semakin banyak isteri yang bekerja. Isteri yang berkarir di luar rumah membuat mereka semakin mandiri dan tidak perlu terlalu banyak bergantung pada suami. Anak yang melihat ibunya berfungsi penuh tanpa keterlibatan ayah akan memandang ayahnya sebagai ayah

yang lemah dan kurang berharga. Akibatnya, ayah semakin kehilangan wibawa dan penghargaan di mata anak-anaknya. Selanjutnya ayah yang tidak dihargai merasa makin tidak betah berada di rumah sendiri dan menenggelamkan dirinya dalam dunia kerja. Keadaan ini diperburuk bila ibu tidak menghargai ayah karena ibu merasa lebih terampil dan

lebih pandai mencari uang. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa ketidakharmonisan dalamhidup pernikahan membuat para ayah menjauhkan diri dari anak-anaknya. Hubungan ayah dengan putrinya sangat rentan terhadap pertengkaran antara ayah dan ibu. Dampak yang lebih jauh adalah bahwaanak laki-laki mempunyai kemungkinan lebih besar mencontoh gaya pemecahan masalah secara agresif dari ayahnya. Di lain pihak, anak

perempuan akan mencontoh ketegangan dan kesedihan ibunya. Padamasa kini ketidakharmonisan dalam pernikahan lebih banyak terjadi akibat semakin besarnya keberanian para wanita untuk menyatakan ketidaksetujuan atau pertentangan pendapat dengan suaminya. Hal inimenambah daftar kesulitan para ayah menjalankan perannya.

Namun saya kira ancaman yang paling serius terhadap peran ayah dalam mendidik anak adalah pandangan yang hidup subur di masyarakat,bahwa ibulah yang bertugas untuk mendidik anak. Segala tugas yang menyangkut anak--termasuk masalah akademik dan perilaku moralistik--adalah urusan dan tanggung jawab ibu. Maka bila ada masalah dengan anak yang selalu disalahkan adalah pihak ibu.Pandangan semacam ini lebih banyak dimiliki pria dibanding wanita.Repotnya, tatkala seorang ibu menuntut lebih banyak keterlibatan daripihak ayah, para ayah bersikukuh dengan pendapatnya bahwa ibulah yang seharusnya bertanggung jawab atas pendidikan anak. Situasi semacam ini menyebabkan banyak anak telantar atau bahkan tercabik-cabik di tengah keadaan saling menyalahkan di antara kedua orangtua. Berbagai faktor di atas membuat peran ayah dalam kehidupan anaknya saat ini menjadi tidak jelas dan lebih berat dibanding dengan masa sebelum ini.

Tak bisa dipungkiri bahwa peranan ayah sangat besar dan penting dalam suatu keluarga. Ayah memang bukan yang melahirkan buah hati tercinta, tetapi peranan ayah dalam tugas perkembangan anak sangat dibutuhkan. Tugas ayah selain untuk menafkahi keluarga, ayah juga diharapkan menjadi teman dan guru yang baik untuk anak.

Anak dalam masa perkembangannya membutuhkan segala pengetahuan di segala bidang. Di sinilah peranan ayah sangat penting. Kecerdasan anak sangat dipengaruhi oleh kromosom X- kromosom yang berasal dari ibu. Faktor genetik memang sangat mempengaruhi perkembangan anak, tetapi tugas ayah pula dalam perkembangan otak dan nalar anak. Kesibukan mencari nafkah, kadang mengabaikan kedekatan ayah dengan anak.

Ini kisah nyata. Seorang ibu muda tidak berdaya menghadapi ketiga putranya. Si sulung berusia enam tahun, sedang kedua adiknya masih balita. Si ibu sangat kewalahan menghadapi si sulung yang tidak mau berbagi apapun kepada adiknya.

Meski sebentar saja, si sulung akan merebut mainan yang dipegang sang adik. Akibatnya, terjadi saling tarik dan dorong memperebutkan mainan. Rumah jadi berantakan dan tangisan sang adik yang kalah berebut jadi rutinitas keseharian.

Sang ibu ingin mengubah sikap buruk anak sulungnya. Ia memberi nasihat, bahkan hukuman. Tapi tak satupun cara yang ia terapkan berhasil. Keadaan diperparah dengan sikap egois ayah yang tidak mau membantu istrinya menangani si sulung.

Setelah diamati, ternyata akar dari masalah yang membelit keluarga itu sumbernya bukan dari si sulung. Sang anak adalah efek dari inti masalah. Sedang masalah sesungguhnya berasal dari sang ayah.

Lho, kok bisa? Bukankah sang ayah bekerja seharian di luar rumah, tentu nyaris tak pernah bertemu dengan keluarga?

Nah, di situlah pangkal dari semua masalah keluarga muda yang secara sepintas nampak bahagia karena semua kebutuhan materi sudah tercukupi. Lalu apa yang kurang?

Karena kesibukan sang ayah bekerja, bahkan terkesan workaholic, membuatnya jarang berkomunikasi dengan keluarga. Sang ayah terkesan menghindar dari segala hal yang ‘berbau’ rumah. Ia menghindar bila sang anak ingin bermain dengannya. Ia merasa asing dengan keluarganya sendiri karena ia punya dunia sendiri. Hand phone, komputer dan urusan kerjanya, itulah dunianya.

Anak adalah peniru ulung. Sikap egois sang ayah ternyata ditiru putra sulungnya. Setelah melalui penyadaran yang cukup melelahkan pada sang ayah, akhirnya ia mau mengubah sikap terhadap keluarganya. Dampaknya luar biasa. Perubahan sikap sang ayah juga berdampak kepada si sulung. Ternyata tidak terlalu lama sikap tidak mau berbagi si sulung sedikit demi sedikit mulai berkurang.

Penting, setiap anak merasakan sosok figur ayah hadir di hati mereka. Mereka rindu belaian tangan kekar seorang ayah, mereka rindu suara tegas ayah, mereka butuh figur seorang ayah untuk jadi contoh teladan dalam bersikap.

Bila semua itu tak terpenuhi, bisa dipahami bila di kemudian hari anak-anak ini menjadi pribadi yang bermasalah. Bila keadaan bertambah parah, baru kita tersadar ada yang salah dari anak kita. Fatalnya, sebagian orangtua jarang mau mengakui kesalahan itu, selalu anak yang disalahkan. Padahal, sesungguhnya orangtualah yang membuat mereka menjadi pribadi yang bermasalah.


Figur Ayah dalam keluarga sangat banyak, diantaranya adalah:     

  1. Ayah Sebagai  Pendidik

Tidak bisa disangkal bahwa ayah adalah tulang punggung keluarga. Ia curahkan seluruh kemampuan dan waktunya untuk mencari nafkah agar tercukupi kebutuhan keluarganya. Sedang istri di rumah mengurus rumah, menjaga dan merawat serta mendidik putra-putrinya.

Tetapi belajar dari pengalaman keluarga di atas, ternyata peran ayah tidak berhenti hanya mencari nafkah. Kalau mau dirinci sebenarnya peran ayah sangat besar, bahkan sama dengan peran istri, khususnya dalam pendidikan keluarga. Jadi, suatu kesalahan bila beban pendidikan anak hanya diserahkan sepenuhnya kepada sang istri.

 

  1. Ayah Penuh Cinta

Betapa sering kita abaikan anak-anak yang dititipkan pada kita. Padahal, anak adalah amanah sekaligus anugerah terindah dari-Nya. Kita sering memposisikan anak sebagai milik kita sehingga kita bebas memperlakukan mereka.

Kata ‘mendidik dengan baik’ di atas mengandung pengertian perlakuan yang baik. Bukankah anak belajar dari perilaku kita? Bukankah anak akan belajar membenci bila kita sering mencelanya. Begitupun ia akan belajar mencintai bila kita mencintai dan menyayanginya.

 

  1. c.    Ayah Sebagai Teman Bermain

Sebagai player, Ayah menjadi teman bermain bagi anak-anaknya. Permainan membuat anak merasa nyaman dan menjadi sarana membangun ikatan. Semakin sering Ayah bermain dengan anak, biasanya semakin berkualitas mental anak.

 

  1. Sebagai Guru

Seorang ayah yang baik juga harus bisa berperan sebagai guru. Guru itu berarti sumber pengetahuan bagi anak. Peran penting Ayah sebagai guru bukan hanya untuk mentransfer pengetahuan, tetapi juga untuk memelihara rasa keingintahuan anak. Bidang-bidang yang biasanya dikuasai Ayah dan lebih baik dari Ibu adalah pelajaran ABCD (Ally, Boundaries, Challenge, Dreams).

 

  1. e.    Sebagai Pelindung

Setiap Ayah pasti memiliki naluri untuk melindungi anaknya sejak lahir. Tapi fungsi Ayah sebagai pelindung bukan hanya itu. Justru, yang terpenting adalah mengajarkan anak-anak untuk melindungi dirinya sendiri karena orangtua tak mungkin bersama mereka setiap waktu.Sebagai pelindung, Ayah perlu menjadi Spy, dalam arti berusaha mengenali dunia anak. mengetahui apa kesukaannya, apa yang dibencinya, teman-teman dekatnya, dan dunia yang ditekuni anak. Semakin Ayah mengetahui dunia anak, semakin mudah menjalin komunikasi dan koneksi dengan mereka. Sebaliknya, semakin Ayah tak mengetahui dan asing dengan dunia yang sedang disenangi anak, semakin jauh hubungan Ayah-Anak.

 

  1. f.     Sebagai Patner

 

Sebagai partner, fungsi Ayah bukanlah mendukung Ibu dalam pengasuhan anak, tetapi equal partner. Artinya, Ayah memiliki hak dan tanggung jawab yang sama dengan Ibu.

Sebagai partner, Ayah tidak boleh hanya berharap dan bergantung pada Ibu, tetapi juga terlibat aktif. Ayah juga memiliki hak untuk bermain bersama anak, tak hanya berfungsi sebagai “bad cop” untuk menakut-nakuti anak.

Karena Ayah dan Ibu adalah partner, maka peraturan rumah tangga pun perlu disepakati dan tidak boleh berseberangan. Ayah dan Ibu perlu punya suara sama. Jika Ayah mengatakan tidak, Ibu juga mengatakan yang sama. Demikian sebaliknya.



Pengirim :
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :