Selamat Datang di PP PAUD dan Dikmas Jawa Tengah
Banner
Unit Layanan Terpadu
Agenda
26 September 2021
M
S
S
R
K
J
S
29
30
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Statistik

Total Hits : 4944963
Pengunjung : 204677
Hari ini : 133
Hits hari ini : 24739
Member Online :
IP : 3.237.2.4
Proxy : -
Browser : Opera Mini

Angka Buta Aksara Indonesia Menurun

Tanggal : 09/08/2020, 15:01:11, dibaca 22502 kali.

Upaya Pemerintah dalam menurunkan angka buta aksara melalui berbagai strategi dan program telah memperoleh hasil yang membanggakan. Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) BPS tahun 2019, jumlah penduduk buta aksara telah mengalami penurunan yang cukup signifikan. Persentase buta aksara tahun 2011 sebanyak 4,63 persen, dan pada tahun 2019 turun menjadi 1,78 persen.

Menurut Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Pendidikan Dasar dan Menengah, Kemendikbud, Jumeri, strategi penuntasan buta aksara beberapa tahun terakhir difokuskan pada daerah tertinggal, terdepan, terluar (3T) karena daerah tersebut sulit dijangkau terutama di masa pandemi. Masa krisis ini menjadi momentum bagi seluruh pihak untuk menunjukkan keberpihakannya terhadap peningkatan literasi.

“Daerah 3T adalah bagian dari NKRI yang harus diperjuangkan, kolaborasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah sangat diperlukan untuk menyukseskan pemberantasan buta aksara di Indonesia,” kata Jumeri dalam bincang virtual menyambut Peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) tahun 2020 beberapa waktu lalu.

Sementara itu, Direktur Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus Kemendikbud, Samto mengingatkan bahwa penuntasan buta aksara adalah amanah pendidikan yang harus terus diperjuangkan, terlebih di masa krisis akibat pandemi COVID-19. Tema HAI tahun ini, menurutnya memberikan kita pelajaran untuk lebih peduli dan banyak berbenah memperbaiki strategi pembelajaran, termasuk literasi.

“Kita mencoba mengubah sistem pengembangan pendidikan untuk menyadarkan masyarakat pentingnya literasi sejak dini agar kesetaraan akses pendidikan semakin terjangkau,” lanjut Samto.

UNESCO menetapkan tanggal 8 September sebagai Hari Aksara Internasional (HAI). Tahun ini adalah peringatan HAI ke-55 sebagai pengingat akan komitmen penuntasan buta aksara. Tema yang diusung oleh UNESCO adalah “Literacy Teaching and Learning in The COVID-19 Crisis and Beyond with a Particular Focus on The Role of Educators and Changing Pedagogies”. Sementara Kemendikbud sendiri menetapkan tema “Pembelajaran Literasi di Masa Pandemi COVID-19, Momentum Perubahan Paradigma Pendidikan.  

Pada puncak peringatan HAI, Kemendikbud memberikan penghargaan kepada berbagai pihak yang telah berkonstribusi dalam bidang keaksaraan, antara lain: 1). Anugerah Aksara bagi pemerintah kabupaten/kota yang akan diberikan kepada tiga pemerintah daerah, 2). Penghargaan Penggiat Keaksaraan Tokoh Masyarakat/Pengelola/Tutor untuk 9 orang pegiat terbaik, 3). Penghargaan TBM Kreatif/Rekreatif yang akan diberikan kepada delapan lembaga terbaik, 4). Penghargaan Keberaksaraan bagi Tokoh Adat untuk 6 orang tokoh.

Selanjutnya, 5). Penghargaan Publikasi Video Keaksaraan untuk enam orang terpilih, 6). Penghargaan Publikasi Keaksaraan di Media Cetak untuk empat orang, 7). Penghargaan Foto Literasi Keaksaraan bagi tiga foto terbaik, 8). Penghargaan Video Keaksaraan untuk 3 video terpilih, serta 9). Apresiasi Menulis Praktik Baik Literasi untuk enam praktik terbaik. Adapun total penerima penghargaan mencapai 48 orang/lembaga.

Klik disini daftar penerima apresiasi



Naskah: Muhammad Lubis (Ed)



Kembali ke Atas


Berita Lainnya :